Sudah Memadaikah Akuntabilitas LSM Kita?

Harus dikatakan bahwa banyak hal dari yang sudah berlalu dalam akuntabilitas komunitas LSM memang tidak memadai. Seluruh survei baru-baru ini oleh Envirocs Internasional menyoroti rendahnya tingkat kepercayaan publik terhadap dunia bisnis dan pemerintah. LSM-LSM mencatat skor sangat tinggi dalam hal indeks kepercayaan, hanya diungguli oleh “angkatan bersenjata”. Para aktivis memfokuskan (dengan gembira) pada peringkat rendah kepercayaan terhadap dunia bisnis dalam survei ini dan survei-survei serupa lain. Yang menyedihkan, beberapa pihak telah mempertanyakan basis yang digunakan LSM-LSM untuk menetapkan daftar popularitas atau menanyakan apakah posisi semacam itu bisa dijamin atau berkelanjutan.

Memang benar bahwa perusahaan-perusahaan (terutama yang terdaftar secara publik) dan bahkan lebih-lebih begitu banyak pemerintah (terpilih) memiliki lebih banyak mekanisme terstruktur akuntabilitas dibanding kebanyakan LSM, sekalipun jika kita merasa yakin bahwa mekanisme ini mendatangkan hasil akhir yang tidak tepat. Jawaban LSM terhadap perbandingan begini ialah seringkali adalah bahwa nilai-nilai dan lingkungan mereka merupakan basis memadai untuk akuntabilitas. Faset-faset LSM ini tentu saja penting tetapi representasi mereka dalam perdebatan ini mengelirukan akuntabilitas individual dan organisasi: orang datang dan pergi dan pandangan mereka berubah-ubah selalu, sementara akuntabilitas organisasi perlu dilekatkan pada aturan tetap organisasi, norma dan standar yang dipakai. Selanjutnya, pandangan ini menyajikan secara salah manfaat tujuan-tujuan yang dipahami bersama sebagai ganti memadai untuk akuntabilitas kinerja dan hasil akhir.

Segelintir LSM secara wajib atau sukarela memilih penerbitan akuntabilitas sistematik, kinerja mereka diaudit secara eksternal (meskipun inilah yang diserukan LSM-LSM untuk yang lain). Anggota senior manajemen dan dewan pengurus mereka jarang mendapat tantangan dari para pendukung (bahkan para anggota, itu pun kalau ada), dan hampir tidak pernah menghadapi pemilihan atau bentuk lain pemeriksaan luar kecuali terdapat penyelewengan finansial yang belum dicakup. Akuntabilitas terhadap para penerima manfaat cenderung bersifat informal – mereka diberdayakan untuk berpartisipasi tetapi dalam beberapa keadaan diberi hak-hak atas sumber daya di luar yang sudah dialokasikan untuk mereka. Akuntabilitas bagi kepentingan pendana sering terlalu birokratis dan sangat bersifat pribadi dan kaku, dengan terlalu sering sumber-sumber daya dialokasikan dengan basis relasi dan mode bukannya berdasarkan pada fakta-fakta obyektif tentang kinerja masa lalu dan masa depan.

Meskipun tidak terlalu kentara, terdapat jurang akuntabilitas LSM. Tetapi fakta-fakta dan kepedulian ini tidak dapat dijadikan pembenaran terhadap klaim tanpa dasar bahwa “LSM-LSM tidak akuntabel”, sama anehnya kalau kita mengatakan hal serupa terhadap dunia bisnis. Komunitas LSM, sebuah sebutan kabur untuk kelompok lembaga-lembaga yang luar biasa heterogen, memiliki sejarah panjang bereksperimen dengan beragam bentuk akuntabilitas yang telah ditiru oleh yang lain. Komunitas bisnis tidak menginvestasikan keterlibatan stakeholder sama sekali. Akarnya berada pada paradigma ‘pembangunan partisipatif’ yang didukung dan dipraktikkan oleh LSM di seluruh dunia sejak pertengahan 1970-an, yang ditandai dengan buku Robert Chamber, Farmers First. Pengembangan indikator-indikator kinerja pada mereka yang terkena pengaruh merupakan penemuan lain LSM karena yang ditiru dengan kekurangan dan kelebihannya oleh konsultan korporasi dan banyak yang lain. Banyak ‘akunting dan auditing sosial’ awal dilakukan oleh New Economics Foundation yang berbasis di Inggris, pada awalnya berfokus pada evaluasi dan akuntabilitas LSM sebelum diteruskan pada bidang akuntabilitas korporasi.

Karena itu yang pantas menerimanya harus diberi pengakuan. Tetapi hal ini tidak menyingkirkan fakta masih adanya jurang akuntabilitas pada sebagian LSM. Yang mencemaskan jurang ini kebanyakan tidak diperhatikan dan betul-betul sering sengaja diabaikan atau dipinggirkan oleh LSM-LSM sendiri. Pada sebuah pertemuan pribadi penulis dengan sekelompok CEO LSM-LSM utama, seorang di antara mereka mengungkap pandangan berikut: “Orang mempercayai kita, lalu kenapa harus membetulkan sesuatu kalau tidak ada yang salah. Tetapi kalaupun kita ingin berbuat sesuatu, orang justru akan beranggapan ada yang tidak beres dan kemudian kita betul-betul dalam kesulitan.” Komentar semacam itu bisa muncul dari CEO korporasi besar mana saja satu dasarwarsa lalu. Tetapi akan lebih jarang terdengar dewasa ini dari sebuah komunitas bisnis yang sarat informasi dan telah banyak makan garam.

Salah satu pertanyaan yang menjadi inti perdebatan ialah apakah LSM-LSM memiliki isu-isu dan kebutuhan akan akuntabilitas yang khusus. Beberapa orang akan melontarkan argumentasi bahwa semua peraturan dan pengaturan khusus bagi LSM tidak pada tempatnya karena LSM-LSM harus diatur di bawah kerangka ketentuan hukum yang lebih umum, misalnya, tentang penyelewengan dan pengungkapan (disclosure). Banyak yang berargumentasi bahwa kerangka regulasi yang umum, digabung dengan keharusan melapor pada donor dan akuntabilitas yang didorong oleh perhatian publik di alokasi LSM bergerak, lebih dari cukup sebagai akutabilitas. Di sisi lain, sebagian yang lain berargumentasi bahwa LSM-LSM menghadapi tantangan-tantangan yang unik bagi akuntabilitasnya.

Inti delemanya ialah bahwa akuntabilitas yang didorong oleh misi sering kali kepada orang-orang, ‘penerima manfaat yang dituju’, yang memiliki sedikit pengaruh dan pada umumnya tanpa kekuasaan terhadap organisasi, sementara akuntabilitas kontraktual di pusat kekuasaan berada, pada umumnya berada di tangan orang-orang di ujung lain dari saluran yang sama, yakni para pendana. Baik artikel Ali Kings maupun Sarah Hobson, yang ditarik dari kasus Zurich Community Trust dan International Development Exchange,menyoroti kemungkinan memberikan lebih banyak pengambilan keputusan pada penerima hibah. Tetapi pengalaman ini tidak memberi sinyal perubahan-perubahan dalam kekuasaan yang mendasari hubungan antara pendana dan penerima hibah. Penting untuk tidak mengelirukan antara perubahan-perubahan dalam daya tanggap dan bentuk-bentuk keterlibatan dengan perubahan-perubahan pada akuntabilitas. Dari perspektif ini, Dewan Penyantun/Dewan Pengurus dan para manajer LSM menghadapi, dan akan terus menghadapi, dilema akuntabilitas yang sangat berbeda dengan yang dihadapi oleh para pelaku bisnis atau lembaga publik. Tujuan-tujuan yang sejalan dengan misi dan akuntabilitas yang terlembagakan yang mendasarinya pada umumnya berjalan dengan arah yang sangat berlainan. Dibanding hal yang lain-lain, hal ini menjadikan perlu adanya perdebatan dan penyelesaian khusus pada topik akuntabilitas LSM.

Hal ini tidak berarti bahwa LSM-LSM tidak bisa belajar dari perkembangan akuntabilitas dunia bisnis dan sektor publik. Justru sebaliknya, peningkatan jumlah laporan-laporan sosial dan keberlanjutan korporasi telah menambah bahan bakar mereka yang melakukan advokasi dengan tingkat yang sebanding akan transparansi LSM. Perdebatan seru tentang tata kelola (governance) korporasi, sama-sma menawarkan pelajaran-pelajaran penting yang dapat dialihkan ke komunitas LSM, utamanya dalam hal tanggung jawab dan kompetensi direktur Dewan Pengurus. Maraknya praktik kemitraan publik-swasta menawarkan kawasan kaya yang lain bagi pembelajaran lintas sektor, sebagaimana disoroti pada artikel Ken Caplan dan Pedro Roxas, juga dalam buku ini. Keduanya menunjukkan dilema akuntabilitas ‘kemitraan lintas sektor’ yang melibatkan bisnis dan LSM-LSM yang berupaya mencari ramuan yang pas antara keuntungan komersial dan pembangunan. Tantangan-tantangan akuntabilitas yang diwakili oleh kemitraan ini, sebagaimana dengan tepat dikemukakan oleh kedua pengarang ini, pada tahun-tahun mendatang akan melahirkan baik wawasan maupun tekanan guna memformalkan akuntabilitas LSM.

Disarikan dari buku: Peluang dan Tantangan Akuntabilitas LSM, penyunting: Zaim Saidi, halaman 4-10

Sumber: keuanganLSM

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top