Psiko-edukasi Remaja di Tengah Perubahan Iklim

Di tengah hiruk-pikuk kehidupan remaja yang penuh tuntutan, mulai dari sekolah, pergaulan, hingga dampak perubahan iklim yang menjadikan cuaca semakin panas, sekelompok Remaja di Kelurahan Meteseh Tembalang memilih berhenti sejenak. Bukan untuk menyerah, tapi untuk belajar memahami diri mereka sendiri.

Sabtu pagi itu (11/4), suasana terasa berbeda. Remaja berkumpul dalam sebuah ruang yang bukan sekadar tempat belajar, tetapi juga ruang aman untuk bercerita. Mereka mengikuti program psikoedukasi kesehatan mental yang diinisiasi oleh Tim Pengabdian Masyarakat Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro, bekerja sama dengan Karang Taruna Meteseh dan PATTIROs.

Program ini lahir dari kegelisahan yang nyata: semakin banyak remaja yang diam-diam bergulat dengan kecemasan, stres, bahkan depresi, tanpa tahu harus berbicara kepada siapa. Di sinilah peran para fasilitator menjadi penting membuka percakapan yang selama ini dianggap tabu. Lewat kolaborasi pengabdian ini, Ns. Sri Padma Sari, S.Kep., MNS., PhD. selaku ketua pengabdian ingin memberikan pemahaman agar remaja lebih peduli dan tidak lagi tabu membicarakan kesehatan mental mereka.

Dipandu oleh para tenaga Dosen Pakar Kesehatan Jiwa, para remaja diajak menyelami hal-hal yang sering mereka rasakan namun sulit dijelaskan. Kecemasan yang datang tiba-tiba, tekanan untuk selalu “baik-baik saja”, hingga perasaan lelah yang tidak selalu terlihat. Mereka mulai memahami bahwa apa yang mereka rasakan adalah valid, dan yang lebih penting, bisa dikelola.

Namun kegiatan ini tidak berhenti pada teori. Para peserta diajak mempraktekkan langsung cara-cara sederhana untuk mengelola emosi dan stres. Dari teknik pernapasan hingga metode seperti SEFT dan regulasi emosi, mereka belajar bahwa ada cara untuk tetap berdiri tegak di tengah tekanan. Setelah kegiatan edukasi ini, diharapkan para remaja mampu mendeteksi kesehatan mental di lingkungan mereka.

Yang paling menarik bukan hanya materi yang disampaikan, tetapi suasana yang tercipta. Perlahan, ruang itu berubah menjadi tempat berbagi. Remaja yang awalnya diam mulai berani bercerita. Ada yang mengungkapkan kecemasan tentang masa depan, ada yang berbagi pengalaman tentang tekanan dari lingkungan sekitar. Tidak ada yang dihakimi—semua didengarkan.

Dari sana terlihat satu hal yang sering terlewat: remaja sebenarnya tidak kekurangan kekuatan, mereka hanya butuh ruang untuk dipahami.

Pelatihan ini mungkin tidak lama, tetapi dampaknya bisa jauh lebih panjang. Setidaknya, para remaja Meteseh kini membawa pulang sesuatu yang lebih dari sekadar pengetahuan, mereka membawa kesadaran bahwa menjaga kesehatan mental sama pentingnya dengan menjaga kesehatan fisik serta membawa bekal wawasan untuk dapat disebarkan pada sesama.  

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top