Semarang – Pusat Telaah dan Informasi Regional Semarang (PATTIROS) bersama dengan Indonesia Parliamentary Center (IPC) menggelar Focus Group Discussion (FGD) bertema “Dampak Sosial, Ekonomi, dan Lingkungan PLTU Batang”, pada 22 Mei 2025 di Hotel Ciputra Semarang. FGD ini dihadiri oleh berbagai pemangku kepentingan, termasuk perwakilan dari Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, PLN Regional Jawa Tengah, serta sejumlah organisasi masyarakat sipil dan akademisi. Diskusi ini bertujuan untuk melihat sejauh mana dampak atas pembangunan PLTU Batang, melalui kacamata sosial, ekonomi, dan lingkungan.
Dampak Sosial PLTU Batang
Fahmi Bastian, Direktur WALHI Jawa Tengah menjelaskan bahwa ada 3 (tiga) tahap dampak yang disebabkan oleh berdirinya PLTU Batang, yaitu dampak pra konstruksi, dampak tahap konstruksi, dan dampak tahap operasi. Dari tiga tahap tersebut, dampak sosial amat terasa pada masa pra konstruksi. Fahmi menjelaskan bahwa warga sekitar PLTU Batang mulai resah, terutama pasca berkunjung ke Jepara, Cirebon, dan Cilacap untuk melihat bagaimana nasib warga disana. Upaya pembungkaman dilakukan hingga penolakan tersebut berujung pada kriminalisasi 5 (lima) orang warga pada tahun 2013.
Dampak Ekonomi PLTU Batang
Pembangunan PLTU Batang menyalahi konsep tata ruang wilayah, yang mana dibangun di kawasan konservasi. Hal tersebut disampaikan oleh Mila Karmilah, akademisi PWK UNISSULA Semarang. Ketidaksesuaian dengan kondisi lingkungan berdirinya PLTU Batang, sangat berdampak bagi perekonomian warga yang mayoritas bekerja sebagai petani dan nelayan. Para petani kehilangan lahannya, ruang tangkap nelayan semakin sempit dibarengi dengan hasil tangkapan yang telah tercemar oleh limbah pabrik.
Dian dan Farida, perwakilan Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Provinsi Jawa Tengah, menyampaikan bahwa terdapat serapan tenaga kerja lokal bagi warga sekitar PLTU Batang. Namun, tenaga kerja lokal hanya dipekerjakan pada masa konstruksi.
Dampak Lingkungan PLTU Batang
PLTU Batang membawa dampak luar biasa bagi kualitas udara dan air di sekitarnya. Sebaran NO2 dan SO2 mengarah 1.600 meter dari cerobong PLTU yang akan berdampak bagi kesehatan warga. Pembangunan jetty yang menjorok 2 km kelaut mengakibatkan gangguan terhadap kawasan konservasi karang di sekitar PLTU Batang
Diskusi berlangsung dinamis, dengan terbangunnya diskusi antar-stakeholder. Organisasi masyarakat sipil menyampaikan temuan-temuan lapangan terkait dampak terhadap mata pencaharian masyarakat pesisir, kualitas udara dan air, serta perubahan sosial akibat alih fungsi lahan. Mereka mendorong peningkatan transparansi data, pelibatan warga dalam pemantauan, dan akses terhadap mekanisme pemulihan lingkungan dan sosial.

