Perubahan iklim membawa dampak signifikan pada kehidupan masyarakat pesisir, terlebih diikuti oleh tata kelola wilayah yang kurang baik. PATTIRO Semarang menyoroti wilayah Tambaklorok dan Kampung Nelayan Tambakrejo yang menghadapi tantangan serius atas pertumbuhan sektor industri di pesisir Kota Semarang. Banyak lokasi nelayan yang berhimpitan dan bersinggungan langsung dengan kawasan industri.
Marzuki, salah satu nelayan Tambakrejo menyatakan bahwa hasil tangkapan ikan saat ini berkurang karena adanya proyek yang membatasi ruang tangkap nelayan. Hal ini disampaikan dalam “Focus Group Discussion Coastal Community: Implementasi Kebijakan Pemerintah Kota Semarang Terhadap Dampak Perubahan Iklim Pada Masyarakat Pesisir yang Terdampak Banjir Rob” yang diselenggarakan oleh PATTIRO Semarang pada 23 – 24 Oktober 2024. Diskusi ini dihadiri oleh 23 masyarakat Tambaklorok dan Kampung Nelayan Tambakrejo yang bertujuan untuk menggali perspektif masyarakat pesisir atas dampak perubahan iklim.
Dalam prosesnya, FGD ini dipandu dengan instrumen atau tools audit sosial yang meliputi aspek kebijakan, efektivitas pelaksanaan, akses masyarakat, dan penganggaran pembangunan. Berdasarkan hasil FGD ini, teridentifikasi bahwa:
- Dampak banjir rob menyebabkan penurunan hasil tangkapan nelayan, sehingga masyarakat beralih dengan melakukan budidaya kerang meski hasilnya minim.
- Masyarakat menghadapi tantangan kesehatan, seperti ISPA dan kesulitan akses air bersih.
- Infrastruktur dasar di wilayah pesisir sangat terbatas: drainase buruk, jalan tergenang, dan fasilitas MCK tidak memadai.
- Masyarakat menyampaikan harapan untuk mendapatkan bantuan modal usaha, legalitas UMKM, dan akses pasar tanpa tengkulak.
- Terdapat usulan untuk mengembangkan wisata bahari sebagai alternatif penguatan ekonomi lokal.

